RESUME AQIDAH AKHLAQ
Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Akhlak
Dosen Pengampu: Prof. Dr.H. Yunahar
lIyas, Lc.,M.A.

Oleh :
Anisa Wahyu
Widyastuti
(20140720134)
PAI
C
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAB 2
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
A..
WUJUD
ALLAH SWT
Wujud (ada)-nya Allah SWT adalah
sesuatu yang badihiyah.untuk membuktikan wujud-Nya dapat dikemukakan beberapa
dalil,antara lain;
1.
Dalil
Fitrah
Allah SWT menciptakan manusia dengan
fitrah bertuhan atau dengan kata lain setiap anak manusia di lahirkan sebagai
seorang muslim.seperti dalam hadis yang artinya;
“Setiap anak di lahirkan dalam keadaan fitrah,maka ibu bapak-nyalah(yang
akan berperan)’mengubah’ anak itu menjadi seorang Yahudi,atau Nasrani,atau
Majusi.....’’(HR.Bukhari).
Jadi hadits di atas bisa kita pahami ‘’ setiap anak di lahirkan sebagai
seseorang muslim’’.Namun demikian fitrah manusia tersebut barulah merupakan potensi
dasar yang harus di pelihara dan di kembangkan.Apabila fitrah tersebut tertutup
oleh beberapa faktor luar,manusia akan lari dan menentang fitrahnya
sendiri.Seperti dalam Al-quran (Yunus 10;22)yang artinnya;
‘’ Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di
daratan,(berlayar)di lautan.Sehingga apabila kamu berada di dalam di dalam
bahtera,dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya
dengan tiupan angin yang baik,dan mereka bergembira karenanya,datanglah angin
badai,dan (apabila) gelombang dari
segenap penjuru menimpanya,dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya) ,maka mereka berdo’a kepada Allah
dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata mata.(Mereka berkata) ’’sesungguhnya
jika Engkau menyelamatkan kami dari
bahaya ini,pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’’(Yunus
10;22)
Dengan demikian fitrah ini,kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara
esensi tidak ada seorang manusia pun yang tidak bertuhan.Yang ada hanyalah
mereka mempertuhankan sesuatu yang bukan
Tuhan yang sebenarnya (Allah) .Misalkan seorang atheis mempertuhankan
‘’atheisme’’, seorang materialis mempertuhankan ‘’materialisme’’.
2.
Dalil
Akal
Dengan menggunakan akal pikiran
untuk merenungkan dirinya sendiri,alam semesta dan lain lainnya seorang manusia
bisa membuktikan adanya Tuhan.seperti dalam surah (AL-Mukmin 40;67) yang
artinya;’’Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian setetes air
mani,sesudah itu dari segumpal darah,kemudian di lahirkannya kamu sebagai
seorang anak,kemudian (kamu di biarkan hidup)supaya kamu sampai kepada masa
(dewasa),kemudian(di biarkan kamu hidup)sampai tua,di antara kamu ada yang di
wafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang di
tentukan dan supaya kamu memahami(Nya)’’.(AL-Mukmin 40:67).
Untuk membuktikan adanya Tuhan(Allah SWT) dapat di pakai beberapa
‘’qonun’’(teori,hukum) antara lain;
a) Qanun
al-‘illah
‘illah
artinya sebab.Segala sesuatu ada sebabnya.setiap perubahan tentu ada yang sebab terjadinya perubahan itu.
b)
.Qanun al-Wujub
Wujub artinya Wajib.Wujud segala sesuatu
tidak bisa terlepas dari salah satu
kemungkinan:Wajjib,mustahil atau mungkin tentang alam semesta.
c)
Qanun al-Huduts
Huduts artinya baru.Alam semesta seluruh
adalah sesuatu yang hadits(baru,ada awal),bukan sesuatu yang qodim(tidak
berawal).
d)
Qanun an-Nizham
Nizham artinya aturan,teratur.Alam
semesta denga seluruh isinya seperti matahari,bulan,bintang,dan planet-planet
lainnya termasuk bumi dengan segala isinya adalah sesuatu yang ‘’sangat
teratur’’.
Sejalan dengan beberapa qanun di
atas,Sa’id Hawwa dalam bukunya ‘’Allah jalla jala-luhu’’ mengemukakan’’Teori
Fenomenologis’’.yang mencangkup sembilan fenomena.fenomena fenomena itu adalah:
·
.Fenomena Terjadinya
Alam
·
Fenomena Kehendak
·
Fenomena Kehidupan
·
Fenomena Pengabulan
Do’a
·
Fenomena Hidayah
·
Fenomena Kreasi
·
Fenomena Hikmah
·
Fenomena Inayah
·
Fenomena Kesatuan
3. Dalil Naqli
Sekalipun secara
fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan,dan dengan akal pikiran manusia bisa
membuktikanya,namun manusia tetap memerlukan dalil naqli(Al-Qur’an dan Sunnah)
untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya(Allah SWT) dengan
segala asmadan sifat-Nya.Dalam pasal wujud Allah SWT ada beberapa hal pokok
yang dikemukakan seagai berikut:
a)
.Allah SWT adalah Al-Awwal
artinya tidak ada permulaan bagi wujud-Nya.Dia juga Al-Akhir artinya tidak ada
akhir dari wujud-Nya.seperti dalam surat (Al-Hadid 57;3) yang artinya ‘’Dialah Yang Awal dan yang Akhir,yang Zhahir
dan yang Bathin,dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu’’.(Al-Hadid 57:3)
b)
.Tidak ada satu pun
yang menyerupai-Nya
‘’Tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan Dia,dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Allah SWT Maha Esa
‘’katakanlah”Dia-lah Allah,Yang Maha Melihat’’(Al-ikhlas 112:1)
c)
.Allah SWT mempunyai
al-Asma’wa shiffaat (Nama-nama dan sifat-sifat)yang di sebutkan-Nya untuk
Diri-Nya di dalam Al-Qur’an serta semua nama dan sifat yang di tuturkan
untuknya oleh Rosulullah SAW
B. TAUHIDULLAH SWT
Esensi iman kepada Allah SWT adalah
Tauhid yaitu meng-esakan-Nya,baik dalam zat,asma’ was-shiffaat,maupun
af’al(perbuatan)-Nya.
Secara sederhana Tauhid dapat di bagi dalam
tiga tingkatan atau tahapan yaitu:1.Tauhid Rububiyah(mengimani Allah SWT ssebagai
satu satunya Rabb).2.Tauhid Mulkiyah(mengimani Allah SWT sebagai satu satunya
Malik)3.Tauhid Illahi-yah(mengimani Allah SWT sebagai satu satun Illah).Penyederhanaan
ke dalam tiga tingkatan di atas didasarkan kepada firman Allah SWT:
‘’Segala puji Allah
Tuhan semesta alam’’(Al-Fatihah1;2)
‘’ Yang
menguasai hari pembalasan’’(Al-F atihah1:4)
‘’Hanya Kepada
Engkaulah kamu menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan.’’(Al-Fatihah1;5)
1 Tauhid Rububiyah
Secara etimologis kata ‘’Rabb’’
sebenarnya mempunyai bnayak arti,antara lain
menumbuhkan,mengembangkan,mendidik,memelihara,memperbaiki.untuk lebih sederhana
dalam hubungannya dengan Rububiyatullah kita mengambil beberapa arti saja yaitu
menciptakan,memberi rezeki,memelihara..(dari beberapa pengertian etimologis
diatas) dan sebagaian arti Rabb kita masukan secara khusus ke dalam pengertian
Mulkiyah seperti memimpin dan menyelesaikan suatu perkara.
2 Tauhid Mulkiyah
kata Malik
yang berarti raja dan Malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang
sama yaitu ma-la-ka.keduannya
mempunyai relevansi makna yang kuat.kita banyak menemukan ayat-ayat Al-Qur’an
yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Pemilik dan Raja langit dan bumi dan
seluruh isinya yang artinya ‘’Tiadakah
kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?Dan tiada
bagimu selain Allah seorang pelindung mamupun seorang penolong(Al-Baqarah l-Qur’an
2:10
Kata Ilah berakar dari kata
a-la-ha(alif-lam-ha)yang mempunyai arti antara lain tenang,lindunga cinta dan sembah(‘abada).seperti yang di nyatakan
oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an
3
Tauhid
illahiyah
yang
artinya:’'Aku berlindung kepada Allah
akan termasuk golongan orang-orang yang jahil(Al-Baqarah 2:67).
Di antara makna Illah di atas yang
paling esensi adalah makna’abada (‘ain-ba-dal)yang artinya hamba sahaya,patuh
dan tunduk.Jadi Tauhid Illahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai satu
satunya Al-Ma’bud(yang di sembah).Antara ketiga dimensi Tauhhid di atas berlaku
dua teori(dua dalil)yaitu:
a. .Dalil at-Talazum
Talazum artinya Kemestian.Maksudnya
setiap orang yang menyakini Tauhid Rububiyah
semestinya menyakini Tauhid Mulkiyah,dan
menyakini Tauhid Illahiyah.Dengan kata lain Tauhid Mulkiyah adalah konsekuensi logis dari Tauhid Rububiyah.Tauhid Illahiyah
adalah konsekuensi logis dari Tauhid Mulkiyah.Apabila
terhenti pada Rububiyah saja atau
pada Mulkiyah saja tentu ada sesuatu
yang tidak logis.
b. Dalil
at-Tadhamun
Tadhamun adalah cakupan.Maksudnya setiap
orang yang sudah sampai ke tingkat Tauhid Illahiyah tentunnya sudah melalui dua
tauhid sebelumnya .
C.
.MAKNA
‘’LA ILAHA ILLALLAH
Bahwa sudah di uraikan pada bagian
sebelumnya kata ‘’Illah’’mempunyai arti yang sangat luas mencangkup pengertian
Rububiyah dan Mulkiyah.
Iqrar La Ilaha Illallah
bersifat komprehensif,mencangkup pengertian:
· La Khaliqa Illallah(Tidak
Ada Yang Maha Menciptakan Kecuali Allah)
· La Raziqa Illallah(Tidak
Ada Yang Maha Memberi Rezeki Kecuali Allah)
· La Hafiza Illallah(Tidak
Ada Yang Maha Memelihara Kecuali Allah)
· La
Ma’buda Illallah(Tidak Ada Yang Maha Disembah Kecuali Allah)
D.
.HAKIKAT
DAN DAMPAK DUA KALIMAT SYAHADAT
Iqrar La Ilaha Illallahharus di ikuti Iqrar
Muhammad Rosulullah .Dua Iqrar itulah yang dikenal dengan dua kalimat
syahadat (syahadatain) yang menjadi
gerbang pintu seseorang memasuki dien Allah SWT.
Kata asyhadu secara etimologis
berakar dari kata syaha-da yang
mempunyai tiga pengertian:musyahadah (menyaksikan)
,syahadah (kesaksian) dan half (sumpah)
Antara ketiga pengertian di atas terdapat relevansiyang kuat.Seseorang akan bersumpah bila dia memberi kesaksian,dan dia akan memberikan
kesaksian bila dia menyaksikan.
Berdasarkan pengertian etimologis di atas maka Syahadah seseorang (bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah
semata,dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah)harus mencangkup ketiga
pengertian di atas:musyahadah(dengan
hati dan pikiran),syahadah(dengan
lisan),dan half(dengan menghilangkan
segala keraguan)
Inti dari syahadah yang pertama adalah beribadah hanya kepada
Allah SWTsemata.kedua adalah
menjadikan Rasulullah SAW sebagai titik pusat keteladanan(uswah hasanah)baik
dalam hubungan dengan Allah SWT (hablun minallah)secara vertikal,maupun dalam
hubungan dengan manusia(hablun minannas)secara horizontal.
Berdasarkan ayat di atas Abdullah Nasih’ulwan membagi cinta (al-mahabbah)kepada tiga tingkatan:
1) Al-Mahabbatul Ula,yaitu
mencintai Allah,Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah
2) .Al-Mahabbatul Wustha,yaitu mencintai segala sesuatu
yang boleh di cintai oleh Allah dan Rasul-Nya dengan cara yang di
izinkan-Nya.seperti cinta kepada anak-anak,ibu-bapak,suami atau istri.
3) .Al-Mahabbatul Adnan, yaitu mencintai
anak-anak,ibu bapak,suami atau istri,karib kerabat.
Disamping cinta,seorang muslim yang mengiqrarkan dua kalimah syahadah
akan memiliki sikap ridha di dalam dirinya.ridha terhadap Allah dan
Rasul-Nya.Ridha lahir batin,tanpa ada sedikit pun rasa tidak puas terhadap
dirinya.
Cinta dan ridha diwujudkan dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya,seperti dalam surat (An-Nisa’
4:65)yang artinya:’’Barang siapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah
mentaati Allah.Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu)maka kami tidak
mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.’’(An-Nisa’ 4:80)
Sebagai dampak dari syahadatain,tiga
unsur pokok yang memiliki manusia:hati,akal,dan jasad,akan mendapatkancelupan,warna
,identitas(shibghah)dari Allah sehingga
ü dari
hatinya lahirlah keyakinan yang benar(al-‘itiqad as-sha-hih),melahirkan
motivasi(niat)yang ikhlas.
ü dari
akalnya lahirlah pikiran-pikiran yang islam (al-afkar al-islamiyah)
ü dari
jasadnya lahirlah amal shalih
ü bagai
tanfiz dari keinginan hati dan rancangan akal.
E.
YANG
MEMBATALKAN DUA KALIMAT SYAHADAT
Banyak
sikap atau perbuatan seorang muslim yang bisa membatalkan dua kalimah syahadah.Sa’id
Hawwa menerangkan dua puluh hal yang membatalkannya yaitu sebagai berikut:
1
Bertawakkal
bukan kepada Allah SWT
Allah SWT
memerintahkan kepada kita untuk berusaha dan berikhtiar.Tapi melarang kita bertawakkal kepada usaha atau ikhtiar
tersebut.kita harus bertawakkal kepada Allah SWT semata.
2
Tidak
mengakui bahwa semua nikmat lahir maupun batin-adalah karunia Allah SWT
Semua muslim
wajib mengakui bahwa semua nikmat yang dia peroleh di dunia ini dari Allah
SWT.Manusia tidak boleh mengklaim bahwa nikmat yang dia peroleh itu hanyalah
semata-mata karena usahanya,sebab bagaimanapun dia berusaha kalau Allah SWT
tidak berkenan ,dia tidak akan mendapatkannya.
3
Beramal
dengan tujuan selain Allah
Seorang muslim
harus beramal karena Allah SWT.Dengan demikian seorang muslim tidak boleh
berbuat karena sesuatu yang lain,misalnya karena nasionalisme.
4.
.Memberikan
hak menghalalkan dan mengharamkan,hak memerintah dan melarang,atau hak menentukan
syari’at atau hukum pada umumnya kepada selain Allah SWT
Hak menentukan
hukum atau syari’at hanyalah milik Allah;seperti dalam surah (Al-An’am 6:57)
yang artinya:’’Hak menentukan hukum itu
hanyalah milik Allah semata’’(Al-An’am 6:57)
5.
Taat
secara mutlak kepada selain Allah dan Rasul-Nya
Seorang muslim
hanya di benarkan taat secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya.sedangkan taat
kepada Ulil Amri haruslah
terbatas,selama masih dalam ruang lingkup taat kepada Allah dan Rsul-Nya.
6.
Tidak
menegakkan hukum Allah SWT
Berdasarkan
firman Allah SWT yang artinya;’’Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum yang di turunkan
Allah mereka adalah orang-orang kafir’’.(Al-Maidah 5;44)
7.
Membenci
islam,seluruh atau sebagainnya
Allah berfirman
yang artinya:’’Dan orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah
menghapus amal-amal mereka.yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka
benci kepada apa yang diturunkan Allah,lalu Allah menghapuskan
(pahala)amal-amal mereka.’’(Muhammad 47:8-9)
8.
.Mencintai
kehidupan dunia melebihi akhirat atau menjadikan dunia segala-galanya
9.
Memperolok-olok
Al-Qur’an dan sunnah,atau orang –orang yang menegakkan keduannya,atau
memperolok-olok hukum Allah atau syi’ar islam
Allah SWT
menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang munafiklah yang suka
memperolok-olok islam
10
.Menghalalkan
apa yang di haramkan oleh Allah,dan mengharamkan apa yang di halalkan-Nya
Perbuatan
menghalalkan yang di haramkan oleh Allah dan sebaliknya itu termasuk kebohongan
terhadap Allah.
11
.Tidak
beriman dengan seluruh nash –nash Al-Qur’an dan sunnah
Nash-nash Al-Qur’an dan sunnah adalah suatu kesatuan
yang wajib diimani keseluruhannya.Menolak sebagian berarti menolak
keseluruhannya.
12
.Mengangkat
orang-orang kafir dan munafik menjadi pemimpin dan tidak mencintai orang-orang
yang beraqidah Islam.
13
Tidak
beradab dalam bergaul dengan Rasulullah SWT
Ancaman penghapusan pahala amalan adalah
indikator kemurtadn karena sanksi yang sama di jatuhkan Allah kepada orang-orang
murtad.seperti dalam surat (Al-Baqarah 2:217) yang artinya ‘’Barang
siapa yang murtad di antara kamu dari agamannya,lalu dia mati dalam
kekafiran,maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat,dan
mereka itulah penghuni neraka,mereka kekal di dalamnya.’’(Al-Baqarah 2:217).
14
Tidak
menyenang Tauhid,malah menyenangi kemusyrikan.
Allah berfirman dalam surah (Az-Zumar
39:45) yang artinya ‘’Dan apabila nama Allah saja yang di sebut,kesallah hati
orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,dan apabila nama
sembahan-sembahan selain Allah yang di
sebut,tiba-tiba mereka girang hati.’’(Az-Zumar 39:45)
15
Menyatakan
bahwa makna yang tersirat (batin) dari suatu ayat bertentangan dengan makna
yang tersurat (sesuai dengan pengertian bahasa)
Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT
dalam bahasa arab yang bisa di mengerti maknannya.Oleh sebab itu penafsiran
suatu ayat tidak boleh lari dari konteks bahasa Arab itu sendiri.karena akan
menyebabkan penyelewengan-penyelewengan penafsiran yang sangat berbahaya bagi
orisinalitas Islam.
16
.Memungkiri
salah satu asma,sifat dan af’al Allah SWT
17
Memungkiri
salah satu sifat Rasulullah SAW yang telah di tetapkan oleh Allah SWT,atau
memberinya sifat yang tidak baik,atau tidak menyakininnya sebagai contoh
teladan utama bagi umat manusia
18
Mengkafirkan
orang Islam atau menghalalkan darah-nya,atau tidak mengkafirkan orang kafir.
19
Beribadah
bukan kepada Allah SWT.
Seperti misalnya :ruku’ dan sujud
kepada selain Allah,tawaf tidak di baitullah,meminta atau berdo’a kepada selain
Allah,menyembelih binatang untuk di persembahkan kepada selain Allah.
20
Melakukan
syirik kecil
Yang di maksud dengan syirik kecil adalah
syirik yang tidak membatalkan dua kalimah syahadah secara menyeluruh,tetapi
membatalkan dua kalimah syahadah dalam amalan iitu saja.Misalnya mengerjakan
sholat karena ingin di puji orang
F.
AL-ASMA’WAS-SHIFAT
Al-Asma’
artinya nama-nama,dan as-Shifat artinya
sifat-sifat.Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ke
–Mahasempurnaan-Nya.Metode iman dengan al-asma’was-shifat ada dua:pertama:itsbat,kedua,Nafyu.itsbat maksudnya
mengimani bahwa Allah SWT memiliki al-asma’
was-shifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya,Misalnya Allah SWT Maha
mendengar,Maha Melihat.sedangkan Nafyu maksudnya
menafikan atau menolak segala segala al-asma’
was-shifat yang menunjukan ketidak-sempurnaan-Nya,Misalnya dengan menafikan
adanya makhluk yang menyerupai Allah SWT,
Ada beberapa hal yang perlu kita
perhatikan secara lebih khusus:
ü .Janganlah
memberi nama Allah SWT dengan nama-nama yang tidak di sebutkan di dalam
Al-Qur’an
ü .Jangan
menyamakan(tamtsil),atau memiripkan(tasybih)Zat Allah SWT,sifat-sifat dan af’al(perbuatan)-Nya dengan makhluk mana pun.
ü .Mengimani
al-asma’ was shifat bagi Allah SWT harus apa adanya tanpa menanyakan atau
mempertanyakann ‘’bagaimana’’nya.
ü Dalam
satu hadits di sebutkan bahwa Allah SWTmempunyai 99 nama.
ü Di samping istilah al-asma’al-husna
ada lagi istilah ‘’ismul-lah al-a’zham’’yaitu
nama-nama Allah SWT yang di terangkan di dalam do’a.
G. ILMU ALLAH
Dalam paragraf ini kita akan coba untuk
menguraikan secara ringkas tentang keluasan ilmu Allah.bagaimana Allah
menurunkan ssebagian kecil dari ilmu-Nya untuk umat manusia,bagaimana konsep
kebenaran ilmu,dan apa hikmah memahami dan mengimani Ilmu Allah SWT tersebut.
a.
ILMU
Allah tidak terbatas
Allah mempunyai ilmu yang tidak
terbatas,Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi,baik yang ghaib
maupun yang nyata.seperti dalam surah (Al-Hajj 22:70)yang artinya’’Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi’’(Al-Hajj 22:70)
b.
Ayat-Ayat
Qauliyah dan Ayat-Ayat Kauniyah
Allah SWT menuangkan sebagaian kecil
dari ilmu-Nya kepada umat manusia melalui ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayatKauniyah,atau
melalui wahyu dan alam semesta,
Wahyu yang di maksudkan di atas adalah
wahyu dlam pengertian isthilahi yaitu’’Kalamullah yang di turunkan kepada
Nabi-nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan
(petunjuk )bagi umat manusia.’’baik yang di turunkan langsung,dari belakang
tabir(min wara’ hijab)maupun yang di
turunkan melalui malaikat jibril,Wahyu memiliki pengertian yang
bermacam-macam,antara lain:1.Ilham Fitri,seperti
wahyu yang di berikan kepada ibu Nab Musa untk menyusukan Musa yang masih bayi(Al-Qashash
28:7)2.Instink Haryawan,seperti wahyu
yang di berikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit,(An-Nahl 16:68)3.Isyarat,seperti yang di wahyukan oleh
Nabi Zakaria kepada kaumnyauntuk bertasbih pagi dan sore(Maryam 19:11)4.Perintah Allah kepada Malaikat untuk
mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu kaum
muslimin dalam perang badar(Al-Anfal 8:12)5.Bisikan
syaitan(Al-An’am 6:121)
Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada
umat manusia untuk mencari ilmu dari alam semesta,manusia harus berusaha
membacanya,mempelajari.Dengan mempelajari ,mangamati dan merenungkan alam
semesta(al-Kaun)dengan segala isinya,manusia dapat melahirkan berbagai di
siplin ilmu seperti Kosmologi,Botani,sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai
ilmu seperti Tafsir,Ilmu Tafsir,Fiqih.
c.
Konsep
Kebenaran Ilmu
Wahyu (Al-Qur’an dan sunnah)memiliki
nilai kebenaran yang mutlak(al-haqiqahal-mutlaqah)karena langsung berasal dari
Allah dan Rasul-Nya).Sedangkan ilmu yang di dapat dari alam semesta memiliki
nilai kebenaran yang nisbi(relatif)
dan tajribi(eksperimentatif)atau
dengan istilah al-haqiqah at-tajribiyah
d.
Hikmah
Mengimani Ilmu Allah
Ada beberapa hikmahyang dapat di petik
oleh setiap orang yang beriman dengan ilmu Allah,yaitu:
1.
Membuat manusia sadar
betapa tidak berarti dirinya di hadapan Allah SWT
2. .Dengan
menyadari bahwa ilmu Allah sangat luas,tidak ada satu pun-betapa pun kecil dan
halusnya yang luput dari ilmu-Nya
3.
Keyakinan terhadap ilmu
Allah bisa menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan ,penipuan,dan
kemaksiatan lainnya.
H MA’IYYATULLAH
Ma’iyyah
berasal dari kata ma’a,artinya
bersama.Ma’iyyatullah berarti kebersamaan Allah SWT.
a.
Al-Ma’iyyah
Al-Amah
Allah SWT selalu bersama selluruh
manusia,baik yang mukmin maupun yang kafir.yang taat maupun yang durhaka.Oleh
sebab itu Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk berbuat ihsan,seperti
dalam surah (Al—Qashash 28:77)yang artinya ‘’Berbuat ihsanlah kamu sebagaimana
Allah telah berbuat ihsan kepada engkau...’’(Al-Qashash 28:77).
b.
AL-Ma’iyyah
Al-Khashah
Tidak semua
manusia dapat merespon muraqabatullah
dan ihsanullah sebagaimana
mestinya,malah banyak yang tidak menyadari bahwa setiap hari,setiap jam dirinya
selalu di bawah pengawasan Allah SWT.Akibatnya banyak manusia yang berbuat
semena-mena,merugikan manusia dan kemanusiaan.Orang-orang semacam ini tidak
akan mendapat ma’iyyah secara khusus
dari Allah SWT,artinya mereka tidak akan mendapatkan dukungan dan pertolongan
dari Allah SWT atau dengan istilah lain mereka tidak akan mendapatkan ta’yidullah dan nashrun minallah dalam kehidupan
mereka baik di dunia maupun di akhirat.Di antara sifat-sifat orang yang
beriman yang dapat merespon muraqabatullah
dan ihsanullah secara baik adalah
sifat sabar dan taqwa.Sabar dalam mulkiyah misalnya seluruh dimensinya:sabar dalam
taat dalam menghadapi musibah dan sabar dalam amar ma’ruf nahimungkar.Taqwa yaitu berusaha optimal melaksanakan
perintah Allah SWT dan optimal meninggalkan larangan-Nya.
I.
SYIRIK
Syirik adalah
mempersekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya,baik dalam dimensi rububiyah,mulkiyah,maupun ilahiyah,secara
langsung atau tidak,secara nyata atau terselubung.
Dalam dimensi rububiyah misalnya menyakini bahwa ada makhluk yang mampu menolak
segala kemudharatan dan meraih segala kemanfaatan,atau dapat memberi berkat,seperti
kesaksian para Wali Alla h.Dalam dimensi mulkiyah
misalnya mematuhi sepenuhnya para penguasa non-muslim.Dimensi ilahiyah misalnya berdo’a kepada Allah
melalui perantara orang yang sudah meninggal dunia.
Dilihat dari sifat dan tingkatan
sanksinya,syirik dapat dibagi dua,Syirik besar(as-syirku-al-akbar) dan syirik kecil(as-syirku-al-asghar).
a.
Syirik
Besar
Syirik besar adalah’’Menjadikan bagi
Allah sekutu (niddan) yang (dia)berdo’a kepadanya seperti berdo’a kepada Allah,takut,harap dan cinta kepadanya
seperti kepada Allah,atau melakukan satu bentuk ibadah kepadanya seperti ibadah
kepada Allah’’.(Kitab al-Qaul as-Sadid,As-sa’adi,tt.,29)
syirik besar itu ada yang zhahirun
jaliyun(nampak nyata),seperti menyembah berhala,matahari,bulan,bintang.Dan
ada yang bathinun khafiyun(tersembunyi)seperti
berdo’a kepada orang yang sudah
meninggal,meminta di sembuhkan penyakit,di hindarkan dari bahaya.Di sebut khafiyun(tersembunyi)karena yang berdo’a
tidak pernah mengakui bahwa ia meminta kepada orang mati,dia menganggap bahwa
orang mati sebagai perantara agar do’anya di kabulkan oleh Allah SWT.
b.
.Syirik
Kecil
Syirik kecil adalah:’’Semua perkataan
dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan .Syirik kecil
termasuk dosa besar yang di khawatirkan akan mengantarkan pelakunya kepada
syirik besar.Di antara amal perbuatan yang termasuk syirik kecil ini adalah:
a.
Bersumpah
dengan selain Allah
b.
Memakai
azimat(untuk menolak bahaya atau memurahkan rezeki)
c.
.Menggunakan
mantra-mantra untuk menolak kejahatan,pengobatan
d.
Sihir
e.
.Ramalan
atau Perbintangan(astrologi)
f.
.Bernazar
kepada selain Allah
g.
.Menyembelih
binatang atau mempersembahkan kurban bukan kepada Allah SWT
h.
Riya
Secara khusus Rasulullah SAW
mengingatkan akan bahaya salah satu syirik kecil yaitu Riya. Seperti dalam
hadis yang diriwayatkan oleh(HR.Ahmad)yang artinya:’’Sesungguhnya sesuatu yang
paling aku takuti terjadi pada kalian adalah syirik kecil.’’Sahabat
bertanya:’’Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?’’Rasulullah menjawab
‘’Riya.’’(HR.Ahmad)
Riya pada hakikatnya adalah melakukan
sesuatu karena ingin di lihat atau ingin di puji orang lain.Apabila seseorang
melakukan sesuatu hanya karena ingin
di puji orang lain,maka berarti telah melakukan syirik kecil.Inilah yang paling di takuti oleh Rasulullah SAW
terjadi pada umatnya.
BAB 2
AKHLAQ TERHADAP ALLAH
SWT
A.
TAQWA
Taqwa adalah’’memelihara diri dari
siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala
larangan-Nya’’.Atau mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala
larangan-Nya.’Afif’Abd al-Fattah Thabbarah dalam bukunya Ruhad ad-Din al-Islami mendefinisikan taqwa dengan:’’Seseorang
memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan
dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat,baik bagi dirinya sendiri maupun
bagi orang lain.’’
Lebih lanjut Thabbarah mengatakan bahwa
makna asal dari taqwa adalah pemeliharan
diri.Muttaqin adalah
orang-orang yang memelihara diri mereka dari azab dan kemarahan Allah di dunia
dan di akhiratdengan cara berhenti di garis batas yang telah di
tentukan,melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
a.
Hakikat
Taqwa
Definisi
taqwa adalah mengikuti segala perintah allah dan menjauhi segala larangan Nya.
Makna asal dari
taqwa adalah pemeliharaan diri. Diri tidak perlu pemeliharaan kecuali terhadap
apa yang di takuti. Oleh sebab itu yang berilmu tentang allah akan takut
kepada-NYA,dan yang takut kepada allah akan bertaqwa kepada-NYA.Perumpamaan orang yang bertaqwa bagaikan orang yang hidup di tengah
rimba belantara ,sehingga orang itu akan sangat berhati hati dalam pergerakan
dan perbuatan nya supaya selamat sampai tujuan.seperti dalam surat Al-Baqarah
ayat 177 yang artinya ‘’Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan
barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang
meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,
dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang
yang bertakwa. (QS.al-baqarah 177)
Dalam Surat Al-Baqarah ayat 2-4 yang
artinya:’’Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya:petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa.Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib,yang mendirikan
shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrhkan kepada mereka.Dan
mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an)yang telah di turunkan kepadamu dn
Kitab-Kitab yang telah di turunkan sebelummu,serta mereka yakin adanya
(kehidupan)akhirat’’(QS.Al-Baqarah2:2-4).
Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-4 di atas
di sebutkan empat kriteria orang-orang yang bertaqwa,yaitu (1) Beriman kepada
yang ghaib,(2) mendirikan shalat,(3) menafkahkan sebagian dari rezeki yang
diterimanya dari Allah,(4) beriman denga Kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab
suci sebelumnya dan(5) beriman dengan Hari Akhir.
b.
Bertaqwa
Secara Maksimal
Dalam Surat Ali-Imran ayat 102 Allah SWT
memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya bertaqwa kepada-Nya dengan
maksimal.Dalam QS.Ali-Imran 3:102)yang artinya ‘’Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar
taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama islam.(QS.Ali-Imran3:102)
Dalam ayat ini juga telah di jelaskan
oleh Allah SWT cara bertaqwa secara maksimal yaitu dengan melakukan islamisasi
seluruh aspek dan ruang lingkup kehidupan.Kualitas ketaqwaan seseorang
menentukan tingkat kemuliaannya di sisi
Allah SWT.Semakin maksimal taqwanya semakin mulia dia.
c.
Buah
dari Taqwa
Seseorang yang bertaqwa kepada Allah
SWT akan dapat memetik buahnya,baik di dunia maupun di akhirat.Buah itu antara
lain
1.
Mendapatkan
sikap furqan.yaitu sikap tegas membedakan antara hak dan batil,benar dan
salah,halal dan haram,serta terpuji dan tercela
2.
.Mendapatkan
limpahan berkah dari langit dan bumi
3.
.Mendapatkan
jalan keluar dari kesulitan
4.
Mendapatkan
rezeki tanpa diduga-duga
5.
Mendapatkan
kemudahan dalam urusannya
6.
.Menerima
penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar
B.
CINTA
DAN RIDHA
Cinta adalah kesadaran diri,perasaan jiwa
dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang di
cintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Sejalan dengan cintanya kepada Allah
SWT,seorang mukmin akan mencintai Rasul dan jihad pada jalan-Nya.inilah yang di
sebut dengan cinta utama,sedangkan
cinta kepada ibu bapak,anak-anak harta benda adalah cinta menengah.Abdullah Nashih ‘Ulwan menyebut tiga tingkatan cinta
itu dengan istilah:(1 )al-mahabbah
al-ula, (2) al-mahabbah al-wustha, (3) al-mahabbah al-adnan.
Sebagai ilustrasi bagaimana cinta
menengah bisa jatuh menjadi cinta paling rendah dapat di kemukakan dua contoh: Pertama,berdagang termasuk perwujudan
dari cinta harta benda (al-mahabbah
al-wutsha).Tapi apabila berdagang tidak lagi memperdulikan yang halal dan
haram,maka cinta terhadap harta benda seperti itu yang semula termasuk al-mahabbah al-wustha jatuh menjadi al-mahabbah al-adnankarena
melebihial-mahabbah al-ula.Kedua,termasuk cinta kepada ibu bapak adalah cinta
kepada nenek moyang.Salah satu bentuk cinta kepada nenek moyang adalah
melestarikan tradisi yang di warisi dari mereka secara turun temurun.Di antara
tradisi tersebut h mengandung unsur syirik,atau yang melanggar syari’ah
islam.Bila seorang muslim tetap melakukannya dengan alasan sudah menjadi tradisi maka cinta yang semula al-mahabbah
al-wustha,jatuh menjadi al-mahabbah al-adnan,karena mengabaikan al-mahabbah
al-ula.Di samping itu secara khusus di jelaskan oleh Allah SWT dalam beberapa
ayat Al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang dengan sifat dan amal
tertentu..Misalnya Allah mencintai orang-orang yang 1.berbuat
ihsan(QS.Al-Baqarah 2:195),2.bertaubat(QS Al-Baqarah 2:222)3.bertaqwa(QS.Ali
Imran 3;76)4.khianat(QS.Al-Anfal 8:58).Bila seseorang mencintai Allah SWT tentu
dia akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang di cintai-Nya.Ada
beberapa ayat Allah yang menjelaskan orang-orang yang gibenci-Nya,yaitu
orang-orang yang :1.melampaui batas(QS.Al-Baqarah 2:190)2. Zalim(QS.Ali Imran
3:57). Cinta kepada Allah SWT itu bersumber dari iman (QS.Al-baqarah
2:165).Semakin tebal iman seseorang semakin tinggi cinta-Nya kepada Allah
.Bahkan bila di sebutkan nama Allah hatinya akan bergetar.
C.
IKLHLAS
Secara
etimologis ikhlash berakar dari kata khalasa dengan arti bersih,jernih,murni
Secara terminologis ikhlas adalah
beramal semata-mata mengharap ridho allah swt.
Tiga unsur keikhlasan
1.
Niat
yang ikhlas (ikhlash an-niyah)
Dalam islam
faktor niat sangat penting.apa saja yang di lakukan seorang muslim haruslah
bedasarkan dengan niat mencari Ridha Allah SWT.
2.
Beramal
dengan sebaik-baiknya (itqan al-amal)
Niat yang ikhlas
harus di ikuti dengan amal yang sebaik-baiknya.Seorang Muslim yang mengaku
ikhlas melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu
sebaik-baiknya
3.
Pemanfaatan
hasil usaha dengan tepat (jaudah al-ada)
Seorang Muslim
haruslah memanfaatkan ilmunya dengan baik.
Keutamaan ikhlas
Allah SWT memerintahkan kepada kita
untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh ke ikhlasan dan beramal semata-mata
mengharapkan Ridha dari-Nya.Seperti dalam (QS.Al-An’am 6:162) yang
artinya:’’Katakanlah:’’Sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidupku,dan matiku
hanyalah untuk Allah ,Tuhan semesta alam.(QS.Al-An’am 6:162).
Lawan dari
ikhlas adalah riya.yaitu melakukan sesuatu bukan karena allah tetapi karena
ingin di puji atau pamrih.Secara etimologis riya berakar dari kata
ra-a,yara(melihat),ara-a,yuri-u(memperlihatkan)..Jadi riya adalah orang yang
ingin memperlihatkan mereka kepada orang lain kebaikan yang di lakukannya.Seperti
(QS.An-Nisa 4:142) yang artinya:’’Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu
Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk
shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di
hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS.An-Nisa
4:142)
D.
KHAUF
DAN RAJA’
Khauf dan raja’
atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus di miliki secara
seimbang oleh setiap muslim.
Ø Khauf adalah
kegalauan hati yang membayangkan sesuatu yang tidak di sukai yang akan
menimpanya atau membayangkan kehilangan sesuatu yang di sukainya. Dalam islam
semua rasa takut harus bersumber dari rasa takut kepada allah swt.hanya allah
yang berhak di takuti
Menurut Sayyid Sabiq ada dua dampak
positif dari khauf yaitu;
1. Melahirkan keberanian
menyatakan kebenaran dan membrantas kemungkaran secara tegas tanpa ada rasa
takut pada makhluk yang menghambatnya.
2. .Menyadarkan manusia
untuk tidak meneruskan kemaksiatan yang telah di lakukannya dan menjauhkannya
dari segala macam bentuk kefasikan dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Ø Raja’ (harap)
adalah memautkan hati kepada sesuatu yang di sukai pada masa yang akan datang. Raja’ harus di dahului
dengan usaha yang sungguh-sungguh . Harapan tanpa usaha namanya angan-angan kosong
(tamanm).
E. TAWAKAL
Tawakal adalah membebaskan hati dari
segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala
sesuatunya kepada-Nya.
F. SYUKUR
Syukur ialah memuji si pemberi nikmat
atas kebaikan yang telah di lakukannya.bersyukur ada tiga hal yaitu:mengakui
nikmat dalam batin.membicarakannya secara lahir,dan menjadikanya sarana untuk
taat kepada Allah.
Tiga Dimensi Syukur
Ada tiga dimensi syukur
yaitu:hati,lisan dan jawarih(anggota badan).Hati untuk ma’rifah dan
mahabbah,lisan untuk memuja dan menyebut nama Allah,dan anggota badan untuk
menggunakan nikmat yang di terima sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan
kepada Allah dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya.
G. MURAQABAH
Muraqabah berakar dari kata raqaba (raqaba)
yang berarti menjaga,mengawal,menanti dan mengamati.sedangkan muraqabah bisa
kita artikan dengan pengawasan.Sedangkan yang di maksud dengan muraqabah dalam
pembahasan kita adalah kesadaran seorang Muslim bahwa dia selalu berada dalam
pengawasan Allah SWT.Menurut rosulullah saw,muraqabah yang paling tinggi yaitu
apabila seseorang dalam beribadah kepada allah seolah-olah dia dapat
melihat-NYA. Kesadaran akan
pengawasan allah swt akan
mendorong seseorang muslim akan
melakukan muhasabah (perhitungan,evaluasi)
terhadap amal perbuatan,tingkah laku dan
sikap hatinya sendiri. Dalam hal ini muraqabah berfungsi
sebagai jalan menuju muhasabah.
H.
TAUBAT
Taubat berakar dari kata taba yang
berarti kembali.Orang yang bertaubat kepada Allah adalah orang yang kembali
dari sesuatu menuju sesuatu:kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju
sifat-sifat yang terpuji,kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya.seperti
dalam (QS.At-Tahrim 66:8)yang artinya:’’Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah
kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).
Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan
kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya
sungai –sungai .(QS.At-Tahrim 66:8)
Lima Dimensi Taubat
Taubat yang sempurna harus memenuhi lima
dimensi:
a. Menyadari kesalahan
b. Menyesali kesalahan
c. .Memohon ampun kepada
Allah SWT
d. Berjanji tidak akan
mengulanginya
e. Menutupi kesalahan masa
lalu dengan amal shaleh.
BAB
III
AKHLAQ TERHADAP
RASULULLAH SAW
A.
MENCINTAI
DAN MEMULIAKAN RASUL
Setiap orang yang mengaku beriman SAW
kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan
Rasul yang terakhir.Nabi MuhammadSAW
telah berjuang selama kurang lebih 23 tahun membawa umat manusia keluar dari ke
gelapan menuju cahaya yang terang benderang.Membebaskan umat manusia dari
belenggu kemusyrikan kekufuran dan kebodohan.Sebagai seorang mukmin sudah
seharusnya dan sepantasnya kita mencintai beliau melebihi cinta kita kepada
siapapun selain Allah SWT.
Katakanlah: "jika
bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya
dan dari berjihad di jalan-Nya,
(QS.At-Taubah 9:24)
B.
MENGIKUTI
DAN MENTAATI RASUL
Mengikuti
rosulullah saw (ITTIBA AR-ROSUL) adalah salah Satu bukti kecintaan seorang hamba
terhadap allah swt.Dalam(QS.Ali-Imran 3:31)yang artinya:Katakanlah: "Jika
kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .Dalam
banyak ayat ,Allah SWt meletakkan perintah taatkepada Rasulullah sesudah taat
kepada Alah.Mengikuti
dan mematuhi rosulullah saw ,berarti mengikuti jalan lurus
tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya.Rambu-rambu jalan tersebut
adalah segala aturan kehidupan yang di bawa oleh rosulullah saw yang
terlembagakan dalam al-quran dan sunnah.itulah 2 warisan yang di tinggalkan
rosulullah untuk umat islam, yang apabila selalu di pegang teguh maka umat
islam tidak akan tersesat untuk
selamanya.
C.
MENGUCAPKAN
SALAM
ALLAH SWT
memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan shalawat dan
salam bagi Nabi Muhammad saw.
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Yang artinya:’’Sesungguhnya Allah dan
Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.Hai orang-orang yang beriman,bershalawatlah
kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.’’(QS.Al-Ahzab
33:56)
Allah SWT
memerintahkan kepada orang-orang yang
beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi bukanlah karena Nabi
membutuhkannya.Sebab tanpa do’a siapapun beliau sudah pasti akan selamat dan mendapatkan tempat yang
sangat mulia dan paling terhormat di sisi Allah SWT.Ucapan shalawat dan salam
dari kita,orang-orang beriman,di samping sebagai bukti penghormatan kepada
beliau juga untuk kebaikan kita sendiri .tentu kita tidak sepantasnya
berhemat-hemat mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau,apalagi sampai
jatuh ke tingkat yang ‘’bakhil’’.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar