Selasa, 10 Mei 2016

Resume Buku




RESUME AQIDAH AKHLAQ

Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Aqidah Akhlak
Dosen Pengampu: Prof. Dr.H. Yunahar lIyas, Lc.,M.A.




 Oleh :
                                                        Anisa Wahyu Widyastuti
                                                                 (20140720134)
                                                                        PAI C



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

AQIDAH
BAB 2
ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA
A..    WUJUD ALLAH SWT
             Wujud (ada)-nya Allah SWT adalah sesuatu yang badihiyah.untuk membuktikan wujud-Nya dapat dikemukakan beberapa dalil,antara lain;
1.     Dalil Fitrah
           Allah SWT menciptakan manusia dengan fitrah bertuhan atau dengan kata lain setiap anak manusia di lahirkan sebagai seorang muslim.seperti dalam hadis yang artinya;
         “Setiap anak di lahirkan dalam keadaan fitrah,maka ibu bapak-nyalah(yang akan berperan)’mengubah’ anak itu menjadi seorang Yahudi,atau Nasrani,atau Majusi.....’’(HR.Bukhari).
     Jadi hadits di atas bisa kita pahami ‘’ setiap anak di lahirkan sebagai seseorang muslim’’.Namun demikian fitrah manusia tersebut barulah merupakan potensi dasar yang harus di pelihara dan di kembangkan.Apabila fitrah tersebut tertutup oleh beberapa faktor luar,manusia akan lari dan menentang fitrahnya sendiri.Seperti dalam Al-quran (Yunus 10;22)yang artinnya;
        ‘’ Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan,(berlayar)di lautan.Sehingga apabila kamu berada di dalam di dalam bahtera,dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik,dan mereka bergembira karenanya,datanglah angin badai,dan  (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya,dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung  (bahaya) ,maka mereka berdo’a kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata mata.(Mereka berkata) ’’sesungguhnya jika Engkau  menyelamatkan kami dari bahaya ini,pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’’(Yunus 10;22)
      Dengan demikian fitrah ini,kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara esensi tidak ada seorang manusia pun yang tidak bertuhan.Yang ada hanyalah mereka mempertuhankan sesuatu  yang bukan Tuhan yang sebenarnya (Allah) .Misalkan seorang atheis mempertuhankan ‘’atheisme’’, seorang materialis mempertuhankan ‘’materialisme’’.
2.     Dalil Akal
            Dengan menggunakan akal pikiran untuk merenungkan dirinya sendiri,alam semesta dan lain lainnya seorang manusia bisa membuktikan adanya Tuhan.seperti dalam surah (AL-Mukmin 40;67) yang artinya;’’Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian setetes air mani,sesudah itu dari segumpal darah,kemudian di lahirkannya kamu sebagai seorang anak,kemudian (kamu di biarkan hidup)supaya kamu sampai kepada masa (dewasa),kemudian(di biarkan kamu hidup)sampai tua,di antara kamu ada yang di wafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian)  supaya kamu sampai kepada ajal yang di tentukan dan supaya kamu memahami(Nya)’’.(AL-Mukmin 40:67).
       Untuk membuktikan adanya Tuhan(Allah SWT) dapat di pakai beberapa ‘’qonun’’(teori,hukum) antara lain;
a)     Qanun al-‘illah
  ‘illah artinya sebab.Segala sesuatu ada sebabnya.setiap perubahan tentu ada yang  sebab terjadinya perubahan itu.
b)    .Qanun al-Wujub
     Wujub artinya Wajib.Wujud segala sesuatu tidak bisa terlepas  dari salah satu kemungkinan:Wajjib,mustahil atau mungkin tentang alam semesta.
c)     Qanun al-Huduts
     Huduts artinya baru.Alam semesta seluruh adalah sesuatu yang hadits(baru,ada awal),bukan sesuatu yang qodim(tidak berawal).
d)    Qanun an-Nizham
      Nizham artinya aturan,teratur.Alam semesta denga seluruh isinya seperti matahari,bulan,bintang,dan planet-planet lainnya termasuk bumi dengan segala isinya adalah sesuatu yang ‘’sangat teratur’’.
     Sejalan dengan beberapa qanun di atas,Sa’id Hawwa dalam bukunya ‘’Allah jalla jala-luhu’’ mengemukakan’’Teori Fenomenologis’’.yang mencangkup sembilan fenomena.fenomena fenomena itu adalah:
·       .Fenomena Terjadinya Alam
·       Fenomena Kehendak
·       Fenomena Kehidupan
·       Fenomena Pengabulan Do’a
·       Fenomena Hidayah
·       Fenomena Kreasi
·       Fenomena Hikmah
·       Fenomena Inayah
·       Fenomena Kesatuan

3.     Dalil Naqli
Sekalipun secara fitrah manusia bisa mengakui adanya Tuhan,dan dengan akal pikiran manusia bisa membuktikanya,namun manusia tetap memerlukan dalil naqli(Al-Qur’an dan Sunnah) untuk membimbing manusia mengenal Tuhan yang sebenarnya(Allah SWT) dengan segala asmadan sifat-Nya.Dalam pasal wujud Allah SWT ada beberapa hal pokok yang dikemukakan seagai berikut:
a)     .Allah SWT adalah Al-Awwal artinya tidak ada permulaan bagi wujud-Nya.Dia juga Al-Akhir artinya tidak ada akhir dari wujud-Nya.seperti dalam surat  (Al-Hadid 57;3) yang artinya  ‘’Dialah Yang Awal dan yang Akhir,yang Zhahir dan yang Bathin,dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu’’.(Al-Hadid 57:3)
b)    .Tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya
      ‘’Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia,dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Allah SWT Maha Esa ‘’katakanlah”Dia-lah Allah,Yang Maha Melihat’’(Al-ikhlas 112:1)
c)     .Allah SWT mempunyai al-Asma’wa shiffaat (Nama-nama dan sifat-sifat)yang di sebutkan-Nya untuk Diri-Nya di dalam Al-Qur’an serta semua nama dan sifat yang di tuturkan untuknya oleh Rosulullah SAW
B.    TAUHIDULLAH SWT
      Esensi iman kepada Allah SWT adalah Tauhid yaitu meng-esakan-Nya,baik dalam zat,asma’ was-shiffaat,maupun af’al(perbuatan)-Nya.
    Secara sederhana Tauhid dapat di bagi dalam tiga tingkatan atau tahapan yaitu:1.Tauhid Rububiyah(mengimani Allah SWT ssebagai satu satunya Rabb).2.Tauhid Mulkiyah(mengimani Allah SWT sebagai satu satunya Malik)3.Tauhid Illahi-yah(mengimani Allah SWT sebagai satu satun Illah).Penyederhanaan ke dalam tiga tingkatan di atas didasarkan kepada firman Allah SWT:
‘’Segala puji Allah Tuhan semesta alam’’(Al-Fatihah1;2)
‘’ Yang menguasai hari pembalasan’’(Al-F atihah1:4)
‘’Hanya Kepada Engkaulah kamu menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.’’(Al-Fatihah1;5)
1      Tauhid Rububiyah
        Secara etimologis kata ‘’Rabb’’ sebenarnya mempunyai bnayak arti,antara lain menumbuhkan,mengembangkan,mendidik,memelihara,memperbaiki.untuk lebih sederhana dalam hubungannya dengan Rububiyatullah kita mengambil beberapa arti saja yaitu menciptakan,memberi rezeki,memelihara..(dari beberapa pengertian etimologis diatas) dan sebagaian arti Rabb kita masukan secara khusus ke dalam pengertian Mulkiyah seperti memimpin dan menyelesaikan suatu perkara.
2      Tauhid Mulkiyah
      kata Malik yang berarti raja dan Malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang sama yaitu ma-la-ka.keduannya mempunyai relevansi makna yang kuat.kita banyak menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Pemilik dan Raja langit dan bumi dan seluruh isinya yang artinya ‘’Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung mamupun seorang penolong(Al-Baqarah l-Qur’an 2:10
     Kata Ilah berakar dari kata a-la-ha(alif-lam-ha)yang mempunyai arti antara lain tenang,lindunga cinta  dan sembah(‘abada).seperti yang di nyatakan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an
3      Tauhid illahiyah
yang artinya:’'Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil(Al-Baqarah 2:67).
       Di antara makna Illah di atas yang paling esensi adalah makna’abada (‘ain-ba-dal)yang artinya hamba sahaya,patuh dan tunduk.Jadi Tauhid Illahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai satu satunya Al-Ma’bud(yang di sembah).Antara ketiga dimensi Tauhhid di atas berlaku dua teori(dua dalil)yaitu:
a.       .Dalil at-Talazum
Talazum artinya Kemestian.Maksudnya setiap orang yang menyakini Tauhid Rububiyah semestinya menyakini Tauhid Mulkiyah,dan menyakini Tauhid Illahiyah.Dengan kata lain Tauhid Mulkiyah adalah konsekuensi logis dari Tauhid Rububiyah.Tauhid Illahiyah adalah konsekuensi logis dari Tauhid Mulkiyah.Apabila terhenti pada Rububiyah saja atau pada Mulkiyah saja tentu ada sesuatu yang tidak logis.
b.     Dalil at-Tadhamun
Tadhamun adalah cakupan.Maksudnya setiap orang yang sudah sampai ke tingkat Tauhid Illahiyah tentunnya sudah melalui dua tauhid sebelumnya .
C.    .MAKNA ‘’LA ILAHA ILLALLAH
Bahwa sudah di uraikan pada bagian sebelumnya kata ‘’Illah’’mempunyai arti yang sangat luas mencangkup pengertian Rububiyah dan Mulkiyah.
      Iqrar La Ilaha Illallah bersifat komprehensif,mencangkup pengertian:
·       La Khaliqa Illallah(Tidak Ada Yang Maha Menciptakan Kecuali Allah)
·       La Raziqa Illallah(Tidak Ada Yang Maha Memberi Rezeki Kecuali Allah)
·       La Hafiza Illallah(Tidak Ada Yang Maha Memelihara Kecuali Allah)
·       La Ma’buda Illallah(Tidak Ada Yang Maha Disembah Kecuali Allah)

D.    .HAKIKAT DAN DAMPAK DUA KALIMAT SYAHADAT
Iqrar La Ilaha Illallahharus di ikuti Iqrar Muhammad Rosulullah .Dua Iqrar itulah yang dikenal dengan dua kalimat syahadat  (syahadatain) yang menjadi gerbang pintu seseorang memasuki dien Allah SWT.
     Kata asyhadu secara etimologis berakar dari kata syaha-da yang mempunyai tiga pengertian:musyahadah (menyaksikan) ,syahadah (kesaksian) dan half (sumpah)
     Antara ketiga pengertian di atas terdapat  relevansiyang kuat.Seseorang akan bersumpah bila dia memberi kesaksian,dan dia akan memberikan kesaksian bila dia menyaksikan.
    Berdasarkan pengertian etimologis di atas maka Syahadah seseorang (bahwa sesungguhnya tiada Tuhan melainkan Allah semata,dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah)harus mencangkup ketiga pengertian di atas:musyahadah(dengan hati dan pikiran),syahadah(dengan lisan),dan half(dengan menghilangkan segala keraguan)
     Inti dari  syahadah yang pertama adalah beribadah hanya kepada Allah SWTsemata.kedua adalah menjadikan Rasulullah SAW sebagai titik pusat keteladanan(uswah hasanah)baik dalam hubungan dengan Allah SWT (hablun minallah)secara vertikal,maupun dalam hubungan dengan manusia(hablun minannas)secara horizontal.
      Berdasarkan ayat di atas Abdullah Nasih’ulwan membagi cinta (al-mahabbah)kepada tiga tingkatan:
1)    Al-Mahabbatul Ula,yaitu mencintai Allah,Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah
2)    .Al-Mahabbatul Wustha,yaitu mencintai segala sesuatu yang boleh di cintai oleh Allah dan Rasul-Nya dengan cara yang di izinkan-Nya.seperti cinta kepada anak-anak,ibu-bapak,suami atau istri.
3)    .Al-Mahabbatul Adnan, yaitu mencintai anak-anak,ibu bapak,suami atau istri,karib kerabat.
       Disamping cinta,seorang muslim yang mengiqrarkan dua kalimah syahadah akan memiliki sikap ridha di dalam dirinya.ridha terhadap Allah dan Rasul-Nya.Ridha lahir batin,tanpa ada sedikit pun rasa tidak puas terhadap dirinya.
         Cinta dan ridha diwujudkan dengan taat kepada Allah dan  Rasul-Nya,seperti dalam surat (An-Nisa’ 4:65)yang artinya:’’Barang siapa yang mentaati Rasul itu,sesungguhnya ia telah mentaati Allah.Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu)maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.’’(An-Nisa’ 4:80)
           Sebagai dampak dari syahadatain,tiga unsur pokok yang memiliki manusia:hati,akal,dan jasad,akan mendapatkancelupan,warna ,identitas(shibghah)dari Allah sehingga
ü  dari hatinya lahirlah keyakinan yang benar(al-‘itiqad as-sha-hih),melahirkan motivasi(niat)yang ikhlas.
ü  dari akalnya lahirlah pikiran-pikiran yang islam (al-afkar al-islamiyah)
ü  dari jasadnya lahirlah amal shalih
ü  bagai tanfiz dari keinginan hati dan rancangan akal.

E.    YANG MEMBATALKAN DUA KALIMAT SYAHADAT
Banyak sikap atau perbuatan seorang muslim yang bisa membatalkan dua kalimah syahadah.Sa’id Hawwa menerangkan dua puluh hal yang membatalkannya yaitu  sebagai berikut:
1      Bertawakkal bukan kepada Allah SWT
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berusaha dan berikhtiar.Tapi melarang  kita bertawakkal kepada usaha atau ikhtiar tersebut.kita harus bertawakkal kepada Allah SWT semata.
2      Tidak mengakui bahwa semua nikmat lahir maupun batin-adalah karunia Allah SWT
Semua muslim wajib mengakui bahwa semua nikmat yang dia peroleh di dunia ini dari Allah SWT.Manusia tidak boleh mengklaim bahwa nikmat yang dia peroleh itu hanyalah semata-mata karena usahanya,sebab bagaimanapun dia berusaha kalau Allah SWT tidak berkenan ,dia tidak akan mendapatkannya.
3      Beramal dengan tujuan selain Allah
Seorang muslim harus beramal karena Allah SWT.Dengan demikian seorang muslim tidak boleh berbuat karena sesuatu yang lain,misalnya karena nasionalisme.
4.     .Memberikan hak menghalalkan dan mengharamkan,hak memerintah dan melarang,atau hak menentukan syari’at atau hukum pada umumnya kepada selain Allah SWT
Hak menentukan hukum atau syari’at hanyalah milik Allah;seperti dalam surah (Al-An’am 6:57) yang  artinya:’’Hak menentukan hukum itu hanyalah milik Allah semata’’(Al-An’am 6:57)
5.     Taat secara mutlak kepada selain Allah dan Rasul-Nya
Seorang muslim hanya di benarkan taat secara mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya.sedangkan taat kepada Ulil Amri haruslah terbatas,selama masih dalam ruang lingkup taat kepada Allah dan Rsul-Nya.
6.     Tidak menegakkan hukum Allah SWT
Berdasarkan firman Allah SWT yang artinya;’’Barang siapa yang  tidak berhukum dengan hukum yang di turunkan Allah mereka adalah orang-orang kafir’’.(Al-Maidah 5;44)
7.     Membenci islam,seluruh atau sebagainnya
Allah berfirman yang artinya:’’Dan orang-orang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah,lalu Allah menghapuskan (pahala)amal-amal mereka.’’(Muhammad 47:8-9)
8.     .Mencintai kehidupan dunia melebihi akhirat atau menjadikan dunia segala-galanya
9.     Memperolok-olok Al-Qur’an dan sunnah,atau orang –orang yang menegakkan keduannya,atau memperolok-olok hukum Allah atau syi’ar islam
Allah SWT menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang munafiklah yang suka memperolok-olok islam
10   .Menghalalkan apa yang di haramkan oleh Allah,dan mengharamkan apa yang di halalkan-Nya
Perbuatan menghalalkan yang di haramkan oleh Allah dan sebaliknya itu termasuk kebohongan terhadap Allah.
11   .Tidak beriman dengan seluruh nash –nash Al-Qur’an dan sunnah
Nash-nash  Al-Qur’an dan sunnah adalah suatu kesatuan yang wajib diimani keseluruhannya.Menolak sebagian berarti menolak keseluruhannya.
12   .Mengangkat orang-orang kafir dan munafik menjadi pemimpin dan tidak mencintai orang-orang yang beraqidah Islam.
13   Tidak beradab dalam bergaul dengan Rasulullah SWT
       Ancaman penghapusan pahala amalan adalah indikator kemurtadn karena sanksi yang sama di jatuhkan Allah kepada orang-orang murtad.seperti dalam surat (Al-Baqarah 2:217) yang  artinya ‘’Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamannya,lalu dia mati dalam kekafiran,maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat,dan mereka itulah penghuni neraka,mereka kekal di dalamnya.’’(Al-Baqarah 2:217).
14   Tidak menyenang Tauhid,malah menyenangi kemusyrikan.
      Allah berfirman dalam surah (Az-Zumar 39:45) yang artinya ‘’Dan apabila nama Allah saja yang di sebut,kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat,dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang  di sebut,tiba-tiba mereka girang hati.’’(Az-Zumar 39:45)
15   Menyatakan bahwa makna yang tersirat (batin) dari suatu ayat bertentangan dengan makna yang tersurat (sesuai dengan pengertian bahasa)
        Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT dalam bahasa arab yang bisa di mengerti maknannya.Oleh sebab itu penafsiran suatu ayat tidak boleh lari dari konteks bahasa Arab itu sendiri.karena akan menyebabkan penyelewengan-penyelewengan penafsiran yang sangat berbahaya bagi orisinalitas Islam.
16   .Memungkiri salah satu asma,sifat dan af’al Allah SWT
17   Memungkiri salah satu sifat Rasulullah SAW yang telah di tetapkan oleh Allah SWT,atau memberinya sifat yang tidak baik,atau tidak menyakininnya sebagai contoh teladan utama bagi umat manusia
18   Mengkafirkan orang Islam atau menghalalkan darah-nya,atau tidak mengkafirkan orang kafir.
19   Beribadah bukan kepada Allah SWT.
         Seperti misalnya :ruku’ dan sujud kepada selain Allah,tawaf tidak di baitullah,meminta atau berdo’a kepada selain Allah,menyembelih binatang untuk di persembahkan kepada selain Allah.
20   Melakukan syirik kecil
     Yang di maksud dengan syirik kecil adalah syirik yang tidak membatalkan dua kalimah syahadah secara menyeluruh,tetapi membatalkan dua kalimah syahadah dalam amalan iitu saja.Misalnya mengerjakan sholat karena ingin di puji orang
F.    AL-ASMA’WAS-SHIFAT
Al-Asma’ artinya nama-nama,dan as-Shifat artinya sifat-sifat.Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang menunjukkan ke –Mahasempurnaan-Nya.Metode iman dengan al-asma’was-shifat ada dua:pertama:itsbat,kedua,Nafyu.itsbat maksudnya mengimani bahwa Allah SWT memiliki al-asma’ was-shifat yang menunjukkan ke-Mahasempurnaan-Nya,Misalnya Allah SWT Maha mendengar,Maha Melihat.sedangkan Nafyu maksudnya menafikan atau menolak segala segala al-asma’ was-shifat yang menunjukan ketidak-sempurnaan-Nya,Misalnya dengan menafikan adanya makhluk yang menyerupai Allah SWT,
       Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan secara lebih khusus:
ü  .Janganlah memberi nama Allah SWT dengan nama-nama yang tidak di sebutkan di dalam Al-Qur’an
ü  .Jangan menyamakan(tamtsil),atau memiripkan(tasybih)Zat Allah SWT,sifat-sifat dan af’al(perbuatan)-Nya dengan makhluk mana pun.
ü  .Mengimani al-asma’ was shifat bagi Allah SWT harus apa adanya tanpa menanyakan atau mempertanyakann ‘’bagaimana’’nya.
ü  Dalam satu hadits di sebutkan bahwa Allah SWTmempunyai 99 nama.
ü  Di samping istilah al-asma’al-husna ada lagi istilah ‘’ismul-lah al-a’zham’’yaitu nama-nama Allah SWT yang di terangkan di dalam do’a.
G. ILMU ALLAH
      Dalam paragraf ini kita akan coba untuk menguraikan secara ringkas tentang keluasan ilmu Allah.bagaimana Allah menurunkan ssebagian kecil dari ilmu-Nya untuk umat manusia,bagaimana konsep kebenaran ilmu,dan apa hikmah memahami dan mengimani Ilmu Allah SWT tersebut.
a.     ILMU Allah tidak terbatas
       Allah mempunyai ilmu yang tidak terbatas,Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi,baik yang ghaib maupun yang nyata.seperti dalam surah (Al-Hajj 22:70)yang artinya’’Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi’’(Al-Hajj 22:70)
b.     Ayat-Ayat Qauliyah dan Ayat-Ayat Kauniyah
       Allah SWT menuangkan sebagaian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia melalui ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayatKauniyah,atau melalui wahyu dan alam semesta,
       Wahyu yang di maksudkan di atas adalah wahyu dlam pengertian isthilahi yaitu’’Kalamullah yang di turunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan (petunjuk )bagi umat manusia.’’baik yang di turunkan langsung,dari belakang tabir(min wara’ hijab)maupun yang di turunkan melalui malaikat jibril,Wahyu memiliki pengertian yang bermacam-macam,antara lain:1.Ilham Fitri,seperti wahyu yang di berikan kepada ibu Nab Musa untk menyusukan Musa yang masih bayi(Al-Qashash 28:7)2.Instink Haryawan,seperti wahyu yang di berikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit,(An-Nahl 16:68)3.Isyarat,seperti yang di wahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnyauntuk bertasbih pagi dan sore(Maryam 19:11)4.Perintah Allah kepada Malaikat untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang badar(Al-Anfal 8:12)5.Bisikan syaitan(Al-An’am 6:121)
       Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada umat manusia untuk mencari ilmu dari alam semesta,manusia harus berusaha membacanya,mempelajari.Dengan mempelajari ,mangamati dan merenungkan alam semesta(al-Kaun)dengan segala isinya,manusia dapat melahirkan berbagai di siplin ilmu seperti Kosmologi,Botani,sedangkan dari  mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai ilmu seperti Tafsir,Ilmu Tafsir,Fiqih.
c.     Konsep Kebenaran Ilmu
       Wahyu (Al-Qur’an dan sunnah)memiliki nilai kebenaran yang mutlak(al-haqiqahal-mutlaqah)karena langsung berasal dari Allah dan Rasul-Nya).Sedangkan ilmu yang di dapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi(relatif) dan tajribi(eksperimentatif)atau dengan istilah al-haqiqah at-tajribiyah
d.     Hikmah Mengimani Ilmu Allah
     Ada beberapa hikmahyang dapat di petik oleh setiap orang yang beriman dengan ilmu Allah,yaitu:
1.     Membuat manusia sadar betapa tidak berarti dirinya di hadapan Allah SWT
2.     .Dengan menyadari bahwa ilmu Allah sangat luas,tidak ada satu pun-betapa pun kecil dan halusnya yang luput dari ilmu-Nya
3.     Keyakinan terhadap ilmu Allah bisa menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan ,penipuan,dan kemaksiatan lainnya.
H   MA’IYYATULLAH
Ma’iyyah berasal dari kata ma’a,artinya bersama.Ma’iyyatullah berarti kebersamaan Allah SWT.
a.     Al-Ma’iyyah Al-Amah
       Allah SWT selalu bersama selluruh manusia,baik yang mukmin maupun yang kafir.yang taat maupun yang durhaka.Oleh sebab itu Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk berbuat ihsan,seperti dalam surah (Al—Qashash 28:77)yang artinya ‘’Berbuat ihsanlah kamu sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepada engkau...’’(Al-Qashash 28:77).
b.     AL-Ma’iyyah Al-Khashah
Tidak semua manusia dapat merespon muraqabatullah dan ihsanullah sebagaimana mestinya,malah banyak yang tidak menyadari bahwa setiap hari,setiap jam dirinya selalu di bawah pengawasan Allah SWT.Akibatnya banyak manusia yang berbuat semena-mena,merugikan manusia dan kemanusiaan.Orang-orang semacam ini tidak akan mendapat ma’iyyah secara khusus dari Allah SWT,artinya mereka tidak akan mendapatkan dukungan dan pertolongan dari Allah SWT atau dengan istilah lain mereka tidak akan mendapatkan ta’yidullah dan nashrun minallah dalam kehidupan  mereka baik di dunia maupun di akhirat.Di antara sifat-sifat orang yang beriman yang dapat merespon muraqabatullah dan ihsanullah secara baik adalah sifat sabar dan taqwa.Sabar dalam mulkiyah misalnya seluruh dimensinya:sabar dalam taat dalam menghadapi musibah dan sabar dalam amar ma’ruf nahimungkar.Taqwa yaitu berusaha optimal melaksanakan perintah Allah SWT dan optimal meninggalkan larangan-Nya.
I.               SYIRIK
Syirik adalah mempersekutukan Allah SWT dengan makhluk-Nya,baik dalam dimensi rububiyah,mulkiyah,maupun ilahiyah,secara langsung atau tidak,secara nyata atau terselubung.
      Dalam dimensi rububiyah misalnya menyakini bahwa ada makhluk yang mampu menolak segala kemudharatan dan meraih segala kemanfaatan,atau dapat memberi berkat,seperti kesaksian para Wali Alla h.Dalam dimensi mulkiyah misalnya mematuhi sepenuhnya para penguasa non-muslim.Dimensi ilahiyah misalnya berdo’a kepada Allah melalui perantara orang yang sudah meninggal dunia.
       Dilihat dari sifat dan tingkatan sanksinya,syirik dapat dibagi dua,Syirik besar(as-syirku-al-akbar) dan syirik kecil(as-syirku-al-asghar).
a.     Syirik Besar
       Syirik besar adalah’’Menjadikan bagi Allah sekutu (niddan) yang  (dia)berdo’a kepadanya seperti berdo’a  kepada Allah,takut,harap dan cinta kepadanya seperti kepada Allah,atau melakukan satu bentuk ibadah kepadanya seperti ibadah kepada Allah’’.(Kitab al-Qaul as-Sadid,As-sa’adi,tt.,29) syirik besar itu ada yang zhahirun jaliyun(nampak nyata),seperti menyembah berhala,matahari,bulan,bintang.Dan ada yang bathinun khafiyun(tersembunyi)seperti berdo’a kepada orang  yang sudah meninggal,meminta di sembuhkan penyakit,di hindarkan dari bahaya.Di sebut khafiyun(tersembunyi)karena yang berdo’a tidak pernah mengakui bahwa ia meminta kepada orang mati,dia menganggap bahwa orang mati sebagai perantara agar do’anya di kabulkan oleh Allah SWT.
b.     .Syirik Kecil
       Syirik kecil adalah:’’Semua perkataan dan perbuatan yang akan membawa seseorang kepada kemusyrikan .Syirik kecil termasuk dosa besar yang di khawatirkan akan mengantarkan pelakunya kepada syirik besar.Di antara amal perbuatan yang termasuk syirik kecil ini adalah:
a.     Bersumpah dengan selain Allah
b.     Memakai azimat(untuk menolak bahaya atau memurahkan rezeki)
c.     .Menggunakan mantra-mantra untuk menolak kejahatan,pengobatan
d.     Sihir
e.     .Ramalan atau Perbintangan(astrologi)
f.      .Bernazar kepada selain Allah
g.     .Menyembelih binatang atau mempersembahkan kurban bukan kepada Allah SWT
h.     Riya
        Secara khusus Rasulullah SAW mengingatkan akan bahaya salah satu syirik kecil yaitu Riya. Seperti dalam hadis yang diriwayatkan oleh(HR.Ahmad)yang artinya:’’Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti terjadi pada kalian adalah syirik kecil.’’Sahabat bertanya:’’Apa syirik kecil itu ya Rasulullah?’’Rasulullah menjawab ‘’Riya.’’(HR.Ahmad)
        Riya pada hakikatnya adalah melakukan sesuatu karena ingin di lihat atau ingin di puji orang lain.Apabila seseorang melakukan sesuatu hanya karena ingin di puji orang lain,maka berarti telah melakukan syirik kecil.Inilah yang paling di takuti oleh Rasulullah SAW terjadi pada umatnya.












BAB 2
AKHLAQ TERHADAP ALLAH SWT
A.    TAQWA
      Taqwa adalah’’memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya’’.Atau mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.’Afif’Abd al-Fattah Thabbarah dalam bukunya Ruhad ad-Din al-Islami mendefinisikan taqwa dengan:’’Seseorang memelihara dirinya dari segala sesuatu yang mengundang kemarahan Tuhannya dan dari segala sesuatu yang mendatangkan mudharat,baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.’’
       Lebih lanjut Thabbarah mengatakan bahwa makna asal dari taqwa adalah pemeliharan  diri.Muttaqin adalah orang-orang yang memelihara diri mereka dari azab dan kemarahan Allah di dunia dan di akhiratdengan cara berhenti di garis batas yang telah di tentukan,melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya
a.     Hakikat Taqwa
Definisi taqwa adalah mengikuti segala perintah allah dan menjauhi segala larangan Nya.
Makna asal dari taqwa adalah pemeliharaan diri. Diri tidak perlu pemeliharaan kecuali terhadap apa yang di takuti. Oleh sebab itu yang berilmu tentang allah akan takut kepada-NYA,dan yang takut kepada allah akan bertaqwa kepada-NYA.Perumpamaan  orang yang  bertaqwa bagaikan orang yang hidup di tengah rimba belantara ,sehingga orang itu akan sangat berhati hati dalam pergerakan dan perbuatan nya supaya selamat sampai tujuan.seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 177 yang artinya ‘’Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.al-baqarah 177)
    Dalam Surat Al-Baqarah ayat 2-4 yang artinya:’’Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya:petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib,yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrhkan kepada mereka.Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an)yang telah di turunkan kepadamu dn Kitab-Kitab yang telah di turunkan sebelummu,serta mereka yakin adanya (kehidupan)akhirat’’(QS.Al-Baqarah2:2-4).
        Dalam surat Al-Baqarah ayat 3-4 di atas di sebutkan empat kriteria orang-orang yang bertaqwa,yaitu (1) Beriman kepada yang ghaib,(2) mendirikan shalat,(3) menafkahkan sebagian dari rezeki yang diterimanya dari Allah,(4) beriman denga Kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab suci sebelumnya dan(5) beriman dengan Hari Akhir.
b.     Bertaqwa Secara Maksimal
 Dalam Surat Ali-Imran ayat 102 Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman supaya bertaqwa kepada-Nya dengan maksimal.Dalam QS.Ali-Imran 3:102)yang artinya ‘’Hai orang-orang yang beriman,bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam.(QS.Ali-Imran3:102)
          Dalam ayat ini juga telah di jelaskan oleh Allah SWT cara bertaqwa secara maksimal yaitu dengan melakukan islamisasi seluruh aspek dan ruang lingkup kehidupan.Kualitas ketaqwaan seseorang menentukan tingkat kemuliaannya di sisi  Allah SWT.Semakin maksimal taqwanya semakin mulia dia.
c.     Buah dari Taqwa
           Seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT akan dapat memetik buahnya,baik di dunia maupun di akhirat.Buah itu antara lain
1.     Mendapatkan sikap furqan.yaitu sikap tegas membedakan antara hak dan batil,benar dan salah,halal dan haram,serta terpuji dan tercela
2.     .Mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi
3.     .Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan
4.     Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga
5.     Mendapatkan kemudahan dalam urusannya
6.     .Menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar

B.    CINTA DAN RIDHA
     Cinta adalah kesadaran diri,perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang di cintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
       Sejalan dengan cintanya kepada Allah SWT,seorang mukmin akan mencintai Rasul dan jihad pada jalan-Nya.inilah yang di sebut dengan cinta utama,sedangkan cinta kepada ibu bapak,anak-anak harta benda adalah cinta menengah.Abdullah Nashih ‘Ulwan menyebut tiga tingkatan cinta itu dengan istilah:(1 )al-mahabbah al-ula, (2) al-mahabbah al-wustha, (3) al-mahabbah al-adnan.
       Sebagai ilustrasi bagaimana cinta menengah bisa jatuh menjadi cinta paling rendah dapat di kemukakan dua contoh: Pertama,berdagang termasuk perwujudan dari cinta harta benda (al-mahabbah al-wutsha).Tapi apabila berdagang tidak lagi memperdulikan yang halal dan haram,maka cinta terhadap harta benda seperti itu yang semula termasuk al-mahabbah al-wustha jatuh menjadi al-mahabbah al-adnankarena melebihial-mahabbah al-ula.Kedua,termasuk cinta kepada ibu bapak adalah cinta kepada nenek moyang.Salah satu bentuk cinta kepada nenek moyang adalah melestarikan tradisi yang di warisi dari mereka secara turun temurun.Di antara tradisi tersebut h mengandung unsur syirik,atau yang melanggar syari’ah islam.Bila seorang muslim tetap melakukannya dengan alasan sudah menjadi  tradisi maka cinta yang semula al-mahabbah al-wustha,jatuh menjadi al-mahabbah al-adnan,karena mengabaikan al-mahabbah al-ula.Di samping itu secara khusus di jelaskan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat Al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang dengan sifat dan amal tertentu..Misalnya Allah mencintai orang-orang yang 1.berbuat ihsan(QS.Al-Baqarah 2:195),2.bertaubat(QS Al-Baqarah 2:222)3.bertaqwa(QS.Ali Imran 3;76)4.khianat(QS.Al-Anfal 8:58).Bila seseorang mencintai Allah SWT tentu dia akan selalu berusaha melakukan segala sesuatu yang di cintai-Nya.Ada beberapa ayat Allah yang menjelaskan orang-orang yang gibenci-Nya,yaitu orang-orang yang :1.melampaui batas(QS.Al-Baqarah 2:190)2. Zalim(QS.Ali Imran 3:57). Cinta kepada Allah SWT itu bersumber dari iman (QS.Al-baqarah 2:165).Semakin tebal iman seseorang semakin tinggi cinta-Nya kepada Allah .Bahkan bila di sebutkan nama Allah hatinya akan bergetar.
C.    IKLHLAS
Secara etimologis ikhlash berakar dari kata khalasa dengan arti bersih,jernih,murni
Secara terminologis ikhlas adalah beramal semata-mata mengharap ridho allah swt.
 Tiga unsur keikhlasan
1.     Niat yang ikhlas (ikhlash an-niyah)
Dalam islam faktor niat sangat penting.apa saja yang di lakukan seorang muslim haruslah bedasarkan dengan niat mencari Ridha Allah SWT.
2.     Beramal dengan sebaik-baiknya (itqan al-amal)
Niat yang ikhlas harus di ikuti dengan amal yang sebaik-baiknya.Seorang Muslim yang mengaku ikhlas melakukan sesuatu harus membuktikannya dengan melakukan perbuatan itu sebaik-baiknya
3.     Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat (jaudah al-ada)
Seorang Muslim haruslah memanfaatkan ilmunya dengan baik.
Keutamaan ikhlas
       Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh ke ikhlasan dan beramal semata-mata mengharapkan Ridha dari-Nya.Seperti dalam (QS.Al-An’am 6:162) yang artinya:’’Katakanlah:’’Sesungguhnya shalatku,ibadahku,hidupku,dan matiku hanyalah untuk Allah ,Tuhan semesta alam.(QS.Al-An’am 6:162).
Lawan dari ikhlas adalah riya.yaitu melakukan sesuatu bukan karena allah tetapi karena ingin di puji atau pamrih.Secara etimologis riya berakar dari kata ra-a,yara(melihat),ara-a,yuri-u(memperlihatkan)..Jadi riya adalah orang yang ingin memperlihatkan mereka kepada orang lain kebaikan yang di lakukannya.Seperti (QS.An-Nisa 4:142) yang artinya:’’Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.(QS.An-Nisa 4:142)
D.    KHAUF DAN RAJA’
Khauf dan raja’ atau takut dan harap adalah sepasang sikap batin yang harus di miliki secara seimbang oleh setiap muslim.
Ø  Khauf adalah kegalauan hati yang membayangkan sesuatu yang tidak di sukai yang akan menimpanya atau membayangkan kehilangan sesuatu yang di sukainya. Dalam islam semua rasa takut harus bersumber dari rasa takut kepada allah swt.hanya allah yang berhak di takuti
      Menurut Sayyid Sabiq ada dua dampak positif dari khauf yaitu;
1.     Melahirkan keberanian menyatakan kebenaran dan membrantas kemungkaran secara tegas tanpa ada rasa takut pada makhluk yang menghambatnya.
2.     .Menyadarkan manusia untuk tidak meneruskan kemaksiatan yang telah di lakukannya dan menjauhkannya dari segala macam bentuk kefasikan dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Ø  Raja’ (harap) adalah memautkan hati kepada sesuatu yang di sukai pada masa  yang akan datang. Raja’ harus di dahului dengan usaha yang sungguh-sungguh . Harapan tanpa usaha namanya angan-angan kosong (tamanm).

E.    TAWAKAL
       Tawakal adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatunya kepada-Nya.

F.    SYUKUR
      Syukur ialah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah di lakukannya.bersyukur ada tiga hal yaitu:mengakui nikmat dalam batin.membicarakannya secara lahir,dan menjadikanya sarana untuk taat kepada Allah.

Tiga Dimensi Syukur
        Ada tiga dimensi syukur yaitu:hati,lisan dan jawarih(anggota badan).Hati untuk ma’rifah dan mahabbah,lisan untuk memuja dan menyebut nama Allah,dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang di terima sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya.

G.   MURAQABAH
        Muraqabah berakar dari kata raqaba (raqaba) yang berarti menjaga,mengawal,menanti dan mengamati.sedangkan muraqabah bisa kita artikan dengan pengawasan.Sedangkan yang di maksud dengan muraqabah dalam pembahasan kita adalah kesadaran seorang Muslim bahwa dia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.Menurut rosulullah  saw,muraqabah yang paling tinggi yaitu apabila seseorang dalam beribadah kepada allah seolah-olah dia dapat melihat-NYA.  Kesadaran akan pengawasan  allah  swt akan  mendorong  seseorang  muslim akan  melakukan  muhasabah (perhitungan,evaluasi) terhadap amal perbuatan,tingkah laku  dan sikap hatinya sendiri. Dalam hal ini muraqabah  berfungsi  sebagai jalan menuju  muhasabah.

H.   TAUBAT
       Taubat berakar dari kata taba yang berarti kembali.Orang yang bertaubat kepada Allah adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu:kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat-sifat yang terpuji,kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya.seperti dalam (QS.At-Tahrim 66:8)yang artinya:’’Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan  kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai –sungai .(QS.At-Tahrim 66:8)

Lima Dimensi Taubat
       Taubat yang sempurna harus memenuhi lima dimensi:
a.     Menyadari kesalahan
b.     Menyesali kesalahan
c.     .Memohon ampun kepada Allah SWT
d.     Berjanji tidak akan mengulanginya
e.     Menutupi kesalahan masa lalu dengan amal shaleh.



















BAB III
AKHLAQ TERHADAP
RASULULLAH SAW
A.    MENCINTAI DAN MEMULIAKAN RASUL
      Setiap orang yang mengaku beriman SAW kepada Allah SWT tentulah harus beriman bahwa Muhammad SAW adalah Nabi dan Rasul yang  terakhir.Nabi MuhammadSAW telah berjuang selama kurang lebih 23 tahun membawa umat manusia keluar dari ke gelapan menuju cahaya yang terang benderang.Membebaskan umat manusia dari belenggu kemusyrikan kekufuran dan kebodohan.Sebagai seorang mukmin sudah seharusnya dan sepantasnya kita mencintai beliau melebihi cinta kita kepada siapapun selain Allah SWT.
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya,
(QS.At-Taubah 9:24)

B.    MENGIKUTI DAN MENTAATI RASUL
Mengikuti rosulullah saw  (ITTIBA AR-ROSUL) adalah salah Satu bukti kecintaan seorang hamba terhadap allah swt.Dalam(QS.Ali-Imran 3:31)yang artinya:Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang .Dalam banyak ayat ,Allah SWt meletakkan perintah taatkepada Rasulullah sesudah taat kepada Alah.Mengikuti dan mematuhi rosulullah saw ,berarti mengikuti jalan lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya.Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang di bawa oleh rosulullah saw yang terlembagakan dalam al-quran dan sunnah.itulah 2 warisan yang di tinggalkan rosulullah untuk umat islam, yang apabila selalu di pegang teguh maka umat islam tidak akan tersesat untuk  selamanya.
C.    MENGUCAPKAN SALAM
ALLAH SWT memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad saw.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
       Yang artinya:’’Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.Hai orang-orang yang beriman,bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.’’(QS.Al-Ahzab 33:56)
Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang  yang beriman untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi bukanlah karena Nabi membutuhkannya.Sebab tanpa do’a siapapun beliau sudah pasti  akan selamat dan mendapatkan tempat yang sangat mulia dan paling terhormat di sisi Allah SWT.Ucapan shalawat dan salam dari kita,orang-orang beriman,di samping sebagai bukti penghormatan kepada beliau juga untuk kebaikan kita sendiri .tentu kita tidak sepantasnya berhemat-hemat mengucapkan shalawat dan salam kepada beliau,apalagi sampai jatuh ke tingkat yang  ‘’bakhil’’.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar